BEGINNERS TALK: Terkait Hak Istimewa (PRIVILEGE)

Menyadari bahwa saya bukan yang paling tahu, tapi mungkin hanya lebih awal tahu.

Menyadari bahwa saya bisa bukan karena usaha keras tak berujung, tapi dengan adanya dorongan dari manusia disekitar saya.

Menyadari bahwa saya bisa mengapresiasi seni dengan cukup baik karena lingkungan saya yang mengarahkan kearah sana.

Menyadari bahwa hidup lurus sesuai hasrat (passion) adalah bukan sebuah keharusan, melainkan suatu hal yang sangat biasa.

Menyadari bahwa Tan Malaka pernah berbicara kalau idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki anak muda, dan meresapi lalu mengamini kata-kata itu benar adanya.

Mensyukuri dan berterimakasih atas semesta dan seisinya, hanya itu yang seharusnya dan pantas terus ada dimulut saya.

..

Mau lari kemana sebenarnya tulisan ini?

Kesini..

Jika kalian merasa selera seni kalian lebih baik dari pada orang-orang yang mengapresiasi seni dengan hanya selfie didepan karya seni, mungkin nyatanya kalian pun belum tentu lebih baik dari mereka. Bentuk apresiasi bisa lahir karena lingkungan yang ada, dan kemauan semesta tidak hadir rata untuk semua orang. Bahkan hidayah datang dalam waktu dan cara yang berbeda-beda jugakan.

Jika kalian sedari kecil sudah bisa datang ke MoMA sampai ke Louvre untuk melihat karya seni yang luar biasa bagus, itu adalah kemewahan yang kalian miliki. Jangan mengadili orang-orang yang sedari kecil hanya bisa melihat keindahan gerhana matahari lewat pantulan air di ember atau di sungai. Semesta berbicara melalui cara yang berbeda-beda, dan tergantung kesadaran kalian untuk mengapresiasi hal-hal seperti itu.

Bahkan kemampuan kalian bisa mendapatkan jenjang pendidikan sampai dengan bangku kuliah, itupun kemewahan yang seharusnya kalian syukuri dengan baik, berbagilah! Berbagi dengan orang-orang yang tidak bisa memiliki akses itu.

Gimana ya ngomongnya biar ga berkesan “sok” dan menghakimi? Saya kesulitan.

Intinya, yang saya lakukan sekarang adalah memaklumi, dan atau saya membagi apa yang saya tahu. Karena dengan menyampaikan apa yang saya tahu ke orang lain, mungkin dengan perspektif dari orang lain tersebutlah akan hadir reaksi yang lebih baik dari saya. Bahasa sederhananya mungkin “menginspirasi”.

Terus jika kalian bisa hidup dalam passion kalian, tolonglah. Itu bukan hal yang harus kalian banggakan didepan banyak orang loh. Sekali lagi, itu hak istimewa (privilege) yang tidak semua orang harus hidup dengan garis itu. Banyak orang yang punya tanggung jawab besar yang melebihi dari kemampuannya, persoalan perut jauh lebih besar daripada hasrat (passion) yang harus dipenuhi, bahasa sederhananya ya “dapur harus ngebul lah”. Jadi jika kalian bisa mengisi perut kalian melalui hasrat yang tersalurkan, sekali lagi itu hanya suatu kemewahan yang kalian miliki, dan kemewahan tidak baik loh untuk di pamerkan.

Setelah passion, lalu ada yang namanya ego!

Satu makhluk yang bisa memacu hasrat kalian, sebaiknya sih hati-hati ya kalau kalian punya ego yang besar. Ego besar kadang memakan korban, contohnya begini: misalkan anda adalah seniman dengan skill yang sangat memadai. Passion kalian dalam memproduksi karya seni mungkin membutuhkan investasi yang besar, investasi bisa dalam bentuk uang dan juga tenaga, tetapi kalau di sebelah kalian ada pasangan dengan satu anak, cicilan rumah, listrik, air dan mobil yang rutin hadir tiap bulan, sebaiknya sih jangan dijadikan korban ya. “Dapur ya harus tetap ngebul” tanggung jawab harus selalu di utamakan.

Saya ada di titik dimana saya belum memiliki tanggung jawab yang cukup besar, hidup masih sendiri, belum punya pasangan bahkan ekornya, belum memiliki tagihan-tagihan besar yang datang rutin tiap bulan, badanpun alhamdulillah seluruhnya masih bekerja dengan cukup baik, saat tulisan ini publish pun umur saya masih 27 tahun (yaa masih relatif mudalah), masih satu umur dengan anggota “27 club”. Alhasil saya masih bisa bermain-main dengan idealisme dan hasrat yang saya sadari tidak memuaskan batin saya juga tuh *tertawa.

dan..

Akan berbeda kalau saya sudah memikul banyak tanggung jawab, tapi bukan berarti melakukan hal buruk untuk memenuhi kebutuhan dapur loh ya. Tetap ada nilai dan normanya. Batas jelasnya sih disini, bekerja tidak selalu bersama dengan hati, selama apresiasi bulanan bisa memenuhi kebutuhan tanggung jawab saya, dan saya punya saluran lain untuk memenuhi hasrat saya itu sudah cukup. Hati senang, perut kenyang.

Selamat menjalani hidup, dan di bawah ini adalah gambar-gambar manusia yang hidup dengan passionnya dan telah meraih puncak diumur yang cukup muda dan belum sempat menyicipi hidup dengan cicilan KPR bulanannya.

27-Club.png
“The 27 club”
Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s