BEGINNERS TALK: MENGAPRESIASI DAHULU, BERKREASI KEMUDIAN

Mendengar keresahan dari seorang Yandi laurens sebagai sutradara dan pengajar di IKJ pada wawancaranya dengan Adriano Qalbi di kanal podcastnya mengenai sedikitnya karya yang berkualitas hadir akhir-akhir ini, lalu ketika karya berkualitas sekalinya hadir, apresiasinya tidak berbanding dengan kualitas karyanya.

Menurutnya penyebab itu terjadi adalah karena kebiasaan dari sistem pendidikan Indonesia yang sering meremehkan mata pelajaran kesenian di sekolah, misalnya begini: Pada saat saya SD, jika nilai matematika saya rendah maka semua orang di sekitar saya (guru, orang tua, teman dekat) akan mencak-mencak dan mengevaluasi si anak habis-habisan, tetapi jika nilai KTK atau kesenian saya rendah maka orang sekitar saya hanya akan berperilaku biasa saja, bahkan sekolah akan mengkatrol nilai saya ke angka minimum kelulusan.

Terus dilanjutkan dengan solusi menarik yang sampai sekarang “nyantol” di otak saya. Begini katanya, mungkin pelajaran kesenian ini seharusnya di awali dengan bagaimana cara mengapresiasi, belum perlu menciptakan karya. Jadi anak-anak di ajak datang ke galeri seni, di ajak bagaimana menikmati karya seni dan lalu menuliskan ke dalam  suatu narasi seperti laporan, dokumentasi, cerita atau apapun itu. Dengan begitu, si anak sedari dini akan “kenal” dengan keberagaman karya seni dan akhirnya masing-masing dari mereka dengan sendirinya dakan terasah seleranya.

Kalau sedari kecil kita bisa paham betul dengan bagaimana cara mengapresiasi, akan lebih nyantai sih dunia ini. Jadi ga asal judging :p

Malam sabtu, 24 November 2017

Gudang selatan A, jam 18 punjul sitik, dengan sadar saya datang ke salah satu agenda Bandung Design Bienalle. Jong-Jonan, acara diskusi mengenai perspektif desain yang biasanya menjadi agenda rutin ADGI Bandung untuk mengumpulkan rekan-rekan desain grafis untuk sharing tentang karya kerja, ataupun isu apapun mengenai desain grafis. Malam itu yang menjadi bahasan adalah Perspektif desain dalam industri dan kultur, dengan 3 praktisi yang menurut saya mereka bisa di bilang sebagai aktifis desain grafis (jika di lihat dari besarnya passion dan keresahannya dengan desain grafis di Indonesia) yaitu Aswin Shada dari Thinking Form, Andi Rahmat dari Nusae, dan Andi Kurniawan dari Kudos Studio Bandung sebagai narasumber, dan Ahmad Rifqi A dari ADGI sebagai moderator.

Secara spesifik yang di bahas malam itu adalah aktifitas kolektif mereka bertiga yang membentuk satu wadah mengenai pengarsipan tipografi nusantara dan bagaimana usaha mereka meng-embrace hal tersebut ke dunia desain grafis masa kini. Keresahan itu timbul dari kegiatan ngariung sambil ngopinya mereka, dengan pembahasan menegnai desain yang tidak ada habisnya.  Menarik sekali pandangan mereka bertiga, tiga orang narasumber ini adalah orang-orang yang peka dengan sekitarnya, paling tidak peka dengan suasana visual perkotaan.

15137496_1145506395563412_3411091196868569176_o

NUSANTARA TYPOGRAPHY CENTER

Yang muncul di otak saya adalah suatu pertanyaan bagaimana para narasumber ini memiliki kepekaan visual yang luar biasa. Setelah di hubungkan dengan apa yang saya dengar dari wawancara Yandi Laurens diatas adalah “mereka sangat paham dalam hal mengapresiasi”. Bagaimana mereka memandang bahwa Indonesia sangat memiliki kultur yang beragam, bagaimana masyarakatnya yang tidak menelusuri kultur-kultur itu lebih jauh.

Bisa di pahami secara awam, mereka bertiga memiliki privilege akan akses dan referensi yang luas. Jadi jika di perhatikan lebih dalam bisa jadi itu menjadi kekuatan mereka. Secara awam juga, menikmati “alam” desain bukan menjadi prioritas masyarakat kelas menengah ini, banyak yang masih bergelut dengan sandang pangan papan yang memang akan selalu menjadi prioritas utama. Di butuhkan visi yang luar biasa besar untuk bisa mengubah “alam” desain ini menjadi prioritas, setidaknya menjadi pertimbangan akan pilihanlah.

Hush, jadi ngelantur kemana-mana :p

Tapi cita-cita dari wadah Nusantara Typography Center ini sangat menarik. Bagaimana mereka memiliki visi besar bahwa Indonesia yang memiliki keragaman budaya ini adalah potensi yang harus di gali. Bukan berarti kita di ajak untuk selalu melihat kebelakang dengan menaati kultur secara metode tradisional, tetapi bagaimana kita meng-embrace hal tersebut menjadi suatu yang berkarakter Indonesia dan memiliki kebaruan yang relevan dengan industri saat ini.

Salah satu contoh terkait produk budaya yang di embrace ke arah industri masa kini yang di berikan oleh Andi Rahmat adalah Islamic Center Tulang Bawang Barat di Lampung, dimana pemerintah daerah Lampung bekerja sama dengan pihak swasta untuk merencanakan pembangunan itu. Memang tidak mudah meyakini masyarakat yang mengagungkan produk tradisi untuk menerima perubahan, dalam kasus ini Andra Matin sebagai arsitek mengajak perwakilan pemerintahan Lampung untuk melihat secara langsung bagaimana peradaban saat ini bisa bersinergi dengan produk tradisi di daerahnya.

Hasilnya bagi saya sangat menarik, satu area publik yang memiliki ciri khas kebaruan secara fisik bersinergi dengan filosofi kedaerahan yang memang memiliki nilai yang agung, mengambil tradisi daerah Tulang Bawang yang memiliki empat marga sampai nilai-nilai agama Islam seperti rukun Islam dan lainnya yang di aplikasikan kedalam desain pada area tersebut.

Kesimpulannya, gak akan bisa sih kita membuat sesuatu yang bisa membekas dan relevan bagi banyak orang jika kita tidak mengapresiasi hal-hal yang ada di sekitar kita. Mengapresiasi adalah aktivitas yang sangat berguna dan berdampak sangat besar. Di mulai dari mengapresiasi, mendalami, membaca, berdiskusi, lalu menyerapnya menjadi nilai-nilai yang berharga. Disambung dengan pengetahuan yang terus berjalan seiring waktu, dengan teknologi dan segala kecanggihannya. Selanjutnya berkaryalah dengan bekal-bekal nilai dan ilmu yang kalian miliki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s