MIND TALKING: APRESIASI UNTUK 2017

OK, 21 hari terlambat membicarakan topik ini. Yah tidak akan berpengaruh besar ke kalian juga, jadi langsung saja!

Hampir setahun menulis untuk mengapresiasi apa yang ada di sekitar saya, 2017 menjadi tahun yang cukup penting karena banyak event cukup penting yang tertutup dengan sensasi-sensasi yang tidak terlalu diperlukan. Berikut ini adalah apresiasi tertinggi dari saya untuk 2017, paling tidak yang secara sadar saya bisa hadiri. Big applause to all of you!

 

Lo Pikir Lo Keren & BegituYa

Jadi ternyata, PUBLIC SPEAKING itu lebih menakutkan di bandingkan dengan KEMATIAN, paling tidak data itu yang keluar dari hasil dari survey. Masuk akal menutut saya, berbicara di publik tidak semudah yang dikira, bahkan sayapun sampai saat ini kadang masih bergetar ketika di minta untuk berbicara untuk mengemukakan pendapat yang cukup general. Tetapi dua orang ini, Adriano Qalbi dan Kukuh Adi dengan luar biasanya sangat enteng ketika berbicara bahkan mencemooh penontonnya ketika berbicara di atas panggung.

Adriano Qalbi, Lo Pikir Lo Keren – Bandung

Entah mengapa, mungkin karena saya terlalu punya banyak waktu dan sedikit teman ūüė¶ Saya hadir untuk kedua kalinya dalam pertunjukan spesial Adri. Pertama di Jakarta, kedua di Bandung. Wah, itu salah satu pengalaman aneh yang saya alami, di Bandung Adri lebih lepas di bandingkan saat tampil di Jakarta. Dengan materi yang sama, dengan metode mencontek yang sama pula saya tertawa lebih keras di banding saat saya nonton di Jakarta. Mungkin karena Adri sudah semakin membadani materi yang dia miliki sih, panggung pertunjukkan IFI Bandung yang sangat sederhana menjadi saksinya. Kita di ajak menunggu tanpa ada latar belakang suara, host yang tidak tampak, hingga komika-komika pembuka yang cukup memberi pemanasan yang terlalu panas. Adri tampil dengan terlalu baik, hingga orang di belakang saya terlalu keras tertawa hingga Adri cukup lama berhenti untuk menunggu sang penonton kembali tenang dan siap di “hajar” kembali.

22221000_311266079281672_994450555847835648_n

 

Kukuh Adi, Begituya – Jakarta

Kali ini Taman Ismail Marzuki yang jadi korbannya, skena seni yang sudah cukup lama berdiri ini dibuatnya heran. Dimana biasanya apresiator seni pertunjukkan hadir untuk dengan serius memperhatikan dan mengagumi pertunjukkan kesenian yang serius, kali ini ga ada tuh ketegangan yang terjadi. Yang ada malah keresahan hadir karena yang si punya hajat terlambat hadir hampir satu jam, dan penonton hanya disuguhkan spanduk pecel lele dan latar belakang suara lagu khas gramedia yang membuat saya ingin makan sambil baca. Orang ini juga, mulut ga ada remnya! Saya duduk satu jejer dengan keluarga terdekatnya, dari situ sebenarnya saya menjadi ragu akan materi-materinya, saya takut Kukuh akan menjaga mulutnya untuk berbicara lepas, ternyata.. ah sudahlah. Dan baru kali ini saya melihat endcore yang tidak pretentious, masih ada waktu dan materi yang masih bersisa menjadi alasan si endcore terjadi. Penutupan yang canggung juga terjadi, Kukuh masih memegang mik sampai dia turun dari panggung untuk menyalami keluarga dan teman-teman dekatnya. Jangankan saya, si punya hajat juga masih heran kenapa spesial ini harus di kerjakakan. Satu lagi gimmick yang saya suka, ada kartu ucapan terimakasih yang di anjurkan dibaca setelah saya duduk di kursi penonton saya, canggung sekali.

DJQ-JtsXgAA7_An

Kedua pertunjukkan diatas memang jauh dari pertunjukkan Pandji yang di bungkus sempurna dengan tempat prestisius dan crowd yang masif, tetapi yang sempurna itu kadang membosankan bukan?

 

Paguyuban Pamitnya Meeting – Arman Dhani & Bhagavad Sambada

logo-paguyubanpamitnyameeting

Yang ini terkait perspektif ideologi & pemetaan kawan dan lawan, juga terkait paham mengenai memanusiakan manusia. 2 manusia ini sungguh baik pada dasarnya, dan kalau saya punya pemahaman sedalam mereka mungkin saya sudah menyerah, dan memilih diam, mengeluh hingga bereserapah akan polah manusia-manusia urban Indonesia ini. Tapi tidak bagi mereka berdua, mereka mau turun gunung untuk mengemukakan pendapat-pendapat yang mungkin akan sangat kontra dengan pendapat kebanyakan orang, belum lagi mereka menghadirkan narasumber-narasumber dengan kapasitasnya masing-masing untuk berbicara akan nilai, ideologi, isu-isu kemanusiaan  yang seharusnya banyak tampil di media-media popular lainnya.

Episode 12 – Rudolf Dethu

Berbicara tentang Whisky! Menarik sekali ternyata, dimana ternyata banyak cerita dibalik produksi dan cara meminumnya. Dari yang seharusnya tidak di campur apapun kecuali es batu. Yang kedua, berbicara mengenai isu reklamasi di Bali, bagaimana mengenai pergerakan yang semakin hari semakain masif, metode politik gedor pintunya, dan bagaimana tokoh-tokoh kenamaan menjadi pengerak dan amunisi dari pergerakan itu. Yang terakhir mengenai Rumah Sanur, satu kolektif di Bali yang mewadahi orang-orang yang mungkin sudah gerah dengan kebiasaan tradisi Bali yang tidak bisa lepas dari produk budayanya, orang-orang yang ingin berekspresi lepas dari nilai-nilai tersebut, dan ingin membuat produk-produk urban. Dimana sering di adakan diskusi terkait isu urban, aktivitas hiburan musik, dan lainnya. Saya sendiri jadi penasaran akan bagaimana pemuda-pemuda Bali berfikir jauh dari stereotype pada umumnya.

Episode 17 – Reda Gaudiamo

Seperti biasa, shooting di lakukan di warung jamu pinggir rel kereta dengan latar belakang suara alarm penanda kereta lewat dan knalpot motor 2 tak. Episode yang sangat sentimentil bagi seorang anak dan orang tua, bagaimana perspektif stereotype terkait akan anak yang harus berbakti kepada orang tua sama sekali di balik oleh mereka. Orang tua yang seharusnya berbakti kepada anak, seorang anak tidak pernah minta untuk di lahirkan, katanya. Dan si anak tanpa di perintah akan selalu melihat punggung orang tuanya, referensi buku dari Reda yang berjudul Aku, Meps dan Beps menjadi buku incaran saya selanjutnya.

Episode 19 – Usman Hamid

Di laksanakan berbeda dari episode-episode sebelumnya, yang ini shooting di area properti pribadi halaman kantor LBH Jakarta. Episode ini hadir ketika peristiwa pengepungan kantor LBH Jakarta terjadi, dimana pertanyaan terkait “apakah Indonesia sedang mengalami darurat demokrasi benar terjadi”. Episode ini mengeluarkan pandangan-pandangan baru bahwa negara dengan sistem demokrasi yang baik yaa idealnya memang berisik, memang ricuh, hal itu menandakan bahwa masyarakat banyak masih di persilahkan untuk bersuara dan berteriak. Permasalahannya di sistem demokrasi ini yang suaranya paling keras belum tentu yang paling baik, karena demokrasi bukan mencari yang paling baik, tapi yang paling banyak :p

Episode 20 – *******

Satu-satunya episode dimana identitas narasumber di tutupi bukan karena dia seorang kriminil, tetapi sepertinya pemerintah belum siap akan kehadiran dari ide-ide dan pandangan yang ada dari narasumber ini. Topiknya adalah “Tentang Kayaknya Anarkisme” Sangat menarik ternyata ideologi anarkisme ini, dimana tidak ada kata ideal didalamnya, dimana masing-masing individu di tuntut untuk menjadi mandiri dan kesadaran akan otoritas tubuh masing-masing adalah miliki masing-masing individu tersebut.

Yah, saya sebagai penonton channel ini sih berharap agar channel imi tidak di banned dan si punya acara terus punya semangat untuk membagi pikirannya ke amuba-amuba di dunia maya ini. Cheers!

 

Rossi Musik Fatmawati – Fazerdaze Live

Sebelumnya terimakasih sangat untuk noisewhore, studiorama, dan 630recs akan inisiatifnya menarik Fazerdaze ke Jakarta. Terlalu pagi saya bergerak dari kasur dan melawan godaan udara dingin Bandung, jam 5 pagi itu pula saya sudah ada di kilometer 90an mengarah ke Jakarta. Sepi jalanan dan masih redupnya cahaya matahari masih menjadi godaan buat mata untuk terbuka lebar, tapi telinga cukup semangat mendengarkan suara Amelia Murray dari speaker standar mobil urban tahun 2013 ini. Mulutpun ikut andil melawan malasnya mata terbuka lebar, mengucap ulang lirik-lirik dari “little uneasy, shoulders, dan lucky girl”. Tak sadar laju mobil sudah sampai di 140km/jam dan sudah melewati kilometer 35 di jam tujuhan.

Sekitar jam 8 pagi saya sudah sampai di Ibu Kota, masih setengah hari lagi sebelum gerbang Rossi Musik di buka. Singkat waktu sekitar jam 4 sore mobil sudah terparkir tepat di tengah jalan fatmawati yang di kondisikan menjadi area parkir untuk pertunjukkan ini. Rossi Musik Fatmawati sudah menjadi tempat yang familiar di telinga saya, belum pernah saya menyempatkan ke tempat ini dan akhirnya Fazerdaze menjadi alasan saya untuk datang kesini. Saya paham bagaimana istimewanya tempat ini, dari cerita-cerita orang sekitar dan tempat ini menjadi saksi beberapa band dari teman saya yang pernah tampil, menjadi saksi bagaimana mereka menyaksikan gigs-gigs kecil berkualitas apik.

Berkesan tua dan tidak terawat, material bangunan yang kondisinya suda jauh dari sempurna, tidak adanya gerbang atau penanda tempat. Hal-hal itu justru membuat tempat ini jauh dari kesan intimidatif, tempat yang “ramah” untuk “orang baru” seperti saya. Tidak seperti kebanyakan tempat giggs Jakarta lain yang selalu tampil apik dengan dekorasi maksimal dan berkarakter yang akhirnya bisa-bisa menghadirkan kesan intimidatif “sepertinya saya salah tempat”. Rossi tampil dengan begitu saja, cuek dengan zaman, tetapi banyak sentuhan tangan-tangan urban seperti graffiti yang bertumpuk di beberapa dinding, sticker-sticker event yang tersebar di penjuru sudut yang akhirnya mengakibatkan efek relevansi Rossi dengan waktu.

Pukul tujuh lebihan akhirnya acara di mulai, Sharesprings memulai aksinya dan saya masih duduk-duduk menikmati playlist pilihan DR Satomata (aka Shun) di Mondo by The Rooftop. Saya dengan bersenang hati singgah di Mondo untuk waktu yang lama untuk menunggu acara dimulai, playlist asing yang familiar di telinga dari Shun membuat Mondo ramai dengan orang-orang yang menunggu acara dimulai. Tak lama kami memutuskan masuk ke venue, dan Sharesprings pun turun dari panggung yang lagi-lagi tidak banyak punya dekorasi, hanya screen putih untuk menampilkan visual art dari masing-masing performer, sama sekali tidak ada label sponsor terpajang. Bonus juga buat saya untuk bisa melihat performance dari Grrrl Gang, dan ternyata mereka dari Jogja!! Bathroom/Thrills adalah satu-satunya lagu yang familiar buat saya, dan di akhir pertunjukkan mereka meng-cover lagu The Cure dengan sangat apik dan koor masal pun terjadi.

Kembali lagi duduk di Mondo untuk menunggu sajian utama, sesekali Shun menghampiri DJ setnya untuk mengecek sudah sampai mana kepingan vinylnya berputar, dan memastikan waktu untuk mengganti dengan kepingan yang lain. Tepat satu track habis, kamipun memutuskan masuk kembali ke venue, kami takut melewatkan momen dengan Amelia Murray. Reaksi terdiam hikmat untuk melihat Amelia Murray terjadi ketika nomor-nomor seperti Jennifer, Bedroom Talks, Little Uneasy dibawakan. Melihat bagaimana suara canggung dari bass, lalu di lanjut perlahan oleh instrumen lainnya pada lagu Friends juga membuat penonton senyum-senyum sebelum tiba-tiba kami di hajar suara distorsi dan semua lantang berteriak:

What did I do
How am I to know

Belum lagi koor masal selalu terjadi ketika Missread, Shoulders, Half-Figured di bawakan. Lantai paling atas dari bangunan Rossi ini sampai bergerak ketika Lucky Girl akhirnya dimainkan di akhir-akhir pertunjukkan.

Rossi untuk tempatnya, Mondo untuk persinggahannya, apresiasi crowd yang sungguh kooperatif, 630recs Studiorama NoiseWhore untuk inisiatifnya menyelenggarakan show case ini, dan tentu Fazerdaze untuk kehebohannya. Paket lengkap yang menjanjikan, akan selalu jadi perhatian ketika mereka menyelenggarakan showcase lainnya.

Processed with VSCO with c1 preset

Processed with VSCO with c1 preset

 

Photo courtesy: Instagram account @630recs, provoke-online

 

Jongjonan di – ADGI Bandung

Sungguh melegakan bisa kembali berdomisili di kota Bandung. Kota yang buat saya memiliki banyak akses untuk mengapresiasi obyek-obyek visualnya, dalam hal ini tentang desain. Mereka yang beranggapan bahwa skena desain itu seharusnya di Jakarta Selatan, khususnya di distrik Kemang itu menjadi tidak berlaku buat saya pribadi, bukan berarti saya mendiskreditkan distrik itu, tetapi memang pada dasarnya saya tidak merasa Kemang merupakan tempat yang kondusif untuk membuka dirinya dan menerima saya yang hanya memiliki modal apresiasi. Bandung menjadi kota yang pas untuk saya untuk mengapresiasi banyak hal, dari hal desain interior yang memang menjadi bidang saya (karena jalan akdemik saya :p) sampai dengan bidang kreatif lain yang memang harus saya pahami juga demi memperluas perspektif.

Berawal dari aktifitas ngopi yang berkelanjutan menjadi aktifitas coffee shop hopping kesana-sini, di kedai kopi kecil sekitaran Gedung Sate, Yumaju Coffee Shop saya berhenti melompat karena ambience dan tentu kopinya yang cocok dengan lidah saya. Sore itu di kunjungan yang entah ke berapa kali, bagian dalam ruang akan di tutup karena akan ada acara yang ternyata di buka untuk umum. Saya duduk di luar dan melanjutkan pekerjaan, salah satu barista yang memang sudah familiar dengan saya pun mengajak saya ke dalam untuk ikut ke acara itu, dan YA! dengan senang hati saya memutuskan menutup laptop dan bergabung ke dalam.

jongjonan

Banyak wajah familiar yang hadir waktu itu, dan memang ternyata itu adalah acara dwi-mingguan yang diadakan oleh ADGI-Chapter Bandung, Jongjonan. Acara diskusi terbuka tentang desain grafis, yang di hadiri oleh banyak praktisi desain, dengan sekejap ruangan dalam Yumaju full seat! Secara spesifik yang dibahas malam itu adalah portofolio dari salah satu studio desain grafis di Bandung, KYUB Studio. Pada awalnya tentu saya merasa salah tempat karena yang di bahas adalah mengenai cetak-mencetak dan problematika skena desain grafis, tetapi setelah menyimak ceramahnya ternyata yaa tidak jauh beda dengan problem di industri desain interior. Pada akhirnya pun saya dengan antusias berkontribusi untuk menghabiskan waktu di malam itu dengan pertanyaan yang polos. Selesai acara itulah yang menyenangkan, diskusi berlanjut secara intim antar narasumber dengan peserta, peserta dengan peserta, dan barista dengan peserta. Iklim yang sudah sangat lama tidak saya rasakan.

 

Gudang Sarinah Ekosistem – Ruang Apresiasi Produktif

Dari salah satu event terbesar di Jakarta sampai intimate giggs berkapasitas 33 bangku, dari antrian mengular sampai ke jalan raya sampai antrian lengang maha santai, dari konser festival berpanggung ridging bertingkat sampai panggung beralaskan karpet, dari pertunjukkan musik bergenre rock dengan format orkestra sampai dengan pertunjukkan musik plug n play berformat akustik, dari pameran seni dengan skala internasional sampai pameran karya anak-anak binaan komunitas kolektif independen sekitar, dari pasar kaget bulanan jualan boneka kain sampai pasar berkurasi jualan kain tekstil tradisional otentik.

Gudang Sarinah Ekosistem menyediakan dua hanggar berkapasitas terlalu besar untuk menampung semua acara diatas, dan semua aktifitas yang disebutkan di atas memang sudah pernah di adakan di tempat ini. Kesimpulan buat saya adalah tempat ini merupakan ruang apresiasi yang produktif bagi semua kelas di Jakarta. Ada dua event yang cukup kontras hadir di ruang kreatif ini, sebagai berikut:

Artwarding Night 2017

Diawali dengan event Jakarta Bienalle yang terlewatkan, tidak menyempatkan datang ke event itu menjadi salah satu penyesalan. Hadir di hari penutup cukup membayar penyesalan itu, penutup Jakarta Bienalle 2017 ini dimeriahkan dengan penghargaan kepada seniman-seniman yang berkontribusi di program Artwarding night. Entah pelesetan kata dari Awarding atau memang ada makna khusus dibalik nama acaranya, yang jelas acara penghargaan diadakan sangat meriah dan dibuka untuk umum, antriannya mengular sangat. The Adams, Stars and Rabbit dan musisi independen lainnya sebagai periah acara sepertinya menjadi magnet utama dari acara ini. Yang menarik buat saya adalah treatment untuk gerbang keluar dari acara, dibuat satu lorong yang dipenhui karya-karya kontributor seniman, dan menariknya pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan karya-karya tersebut. Apresiasi pun dengan sendirinya hadir tanpa diminta, memencet, memoto, mencoret, dan interupsi lainnya diperbolehkan di beberapa karya instalasi yang ada di lorong tersebut. Ruang apresiasi produktif!

25074781_10155328227548165_659382843491937278_o

studiovakansi #3: Jason Ranti

Penghujung 2017, Vakansi Studio Hall A3 Gudang Sarinah Ekosistem tanggal 28 desember 2017 tepatnya. Agenda mengaktifkan studio dari grup musik White Shoes and The Couples Company yang di namakan studiovakansi ini kembali diadakan untuk yang ketiga kalinya. Kali ini Jason Ranti yang menjadi magnet acaranya. Musisi yang buat saya cukup sulit di deskripsikan, teman saya bisa menyebutkan si Jason Ranti ini musisi yang romantis dilihat dari lirik-liriknya, saya melihat Jason Ranti ini musisi pintar mengobservasi kehidupan sosial yang dibalut rapalan satir yag lucu. Hanggar besar Gudang Sarinah yang di pecah-pecah sesuai ukuran kertas sebagai penamaan, Hall A3 menjadi titik suara dari acara ini. Kursi besi tua plus anak tangga yang dijadikan fasilitas duduk menjadi pembatas kapasitas ruang yang hanya berjumlah 33 orang, total menjadi 66 orang dengan 2 sesi acara. Jalan acara dibuka oleh Saleh Husen selaku salah satu si tuan rumah studiovakansi, singkat, santai, dan tidak basa-basi langsung mempersilahkan Om Jeje (Panggilan akrab Jason Ranti) maju ke panggung. Kursi yang sama dengan penonton, lantai beralaskan karpet Turki berlubang percikan api rokok, gitar kopong, dan sulutan marlboro putih membuka suara Om Jeje. Lalu habislah 2 jam sesi intim tanpa terasa.

jj

DSC02237

 

Dadah 2017

-__-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s