BEGINNERS TALK : SUDAH SEMAKIN ARTIFICIAL

Ketika prioritas telah tertukar, sandang pangan papan yang tidak terlalu di perhatikan oleh kaum kelas menengah.

Ketika semuanya terkoneksi, kemudahan akses informasi ada pada telfon selular di genggaman tangan.

Ketika aplikasi berbayar menjadi keutamaan, kebutuhan nutrisi dinomor duakan, filter  kamera sebagai kosmetik citra personal.

Ketika teknologi sudah terlalu maju hingga peradaban masyarakatnya tak sanggup mengikuti, juga kemakmuran yang tak merata.

Artificial

Bukan maksud tak mendukung kemajuan teknologi, saya sangat percaya teknologi dibutuhkan banyak orang. Saya percaya dengan inovasi yang bertumbuh, dan dengan inovasi yang terus ada dari banyak orang maka kaum kapitalis tak akan dengan seenaknya mendominasi dan memonopoli hasil inovasi mereka yang didukung oleh modal yang besar. Bahaya jika inovasi berhenti, inovasi yang baik tentunya.

Korporat biasanya mengutamakan modal yang dimilikinya, dengan modal tersebut mereka bisa mencari dan menggali inovasi lebih dalam. Yang saya tahu, untuk melahirkan inovasi yang baik memang dibutuhkan modal yang besar. Inovasi yang baik juga semestinya menjalankan proses trial and error, dimana proses tersebut memerlukan investasi pikiran dan tentu modal yang masif. Nilai utamanya adalah menghasilkan inovasi yang baik, bukan menghasilkan inovasi yang padat modal, bukan padat karya. Inovasi dengan padat modal rentan akan hasil yang tidak baik.

Artificial

Dampak tersebutlah yang akhir-akhir ini banyak keluar, handphone dengan layar yang diperbesar, monitor lengkung dari TV yang menurut saya belum relevan untuk kadar peradaban dan kemakmuran society saat ini. Smart TV dengan dukungan aplikasi streaming-pun pada awalnya belum relevan, tapi dengan kualitas materi TV lokal yang menurut subyektif saya sangatlah tidak berguna sama sekali bagi saya, smart TV telah masuk dalam inovasi yang cukup masuk akal. Alternatif dari youtube, netflix, dan produk sejenisnya menjadi pilihan saya, tapi itupun masih dalam lingkup kecil. Belahan area Indonesia yang lain masih jauh dari tahap teknologi tersebut.

Contoh konkrit lainnya mungkin adalah Apple inc, Perusahaan teknologi multinasional yang sudah membuahkan dua film mengenai sang perintisnya, Steve Jobs. iPhone, yang pada awalnya menawarkan inovasi esensial seperti besar layar yang optimal dengan radius pergerakan jempol, iPod yang menawarkan 1000 lagu dalam satu kantong dengan inovasi kabel earphone berwarna putih-pun pada enam tahun belakang ini tidak lagi menawarkan inovasi yang esensial. Mungkin memang karena motif penciptaan inovasinya adalah keuntungan finansial para pemegang modal.

Tahun 2002 iPod generasi pertama diluncurkan, inovasi berbasis user experience mulai disadari oleh produk-produk teknologi. Keangkuhan perusahaan teknologi akan kerumitan produksi yang hanya bisa dinikmati si techno geek mulai dirasa tidak bisa memenuhi keinginan pasar yang mayoritas tidak selalu mudah paham dengan bahasa coding. Apple yang memulai dengan cukup ekstrim, mendengar salah satu celetukan dari seoarang seniman bahwa “Steve Jobs bukan techno geek, tapi hippies.” Saya rasa celetukan itu masuk akal kalau dilihat dari perilakunya dalam mengolah produk-produk apple, yang juga tidak heran akan sulit di pahami oleh orang-orang diatasnya (board of directors).

Tahun 2003, Tesla inc lahir dengan Elon Musk sebagai pemimpin dari proyek-proyek utama Tesla. Sebelumnya, jujur saya tidak sama sekali mengikuti perkembangan teknologi otomotif, tapi saya-pun tidak rela kalau industri otomotif yang sudah dibangun lama dengan inovasi-inovasi bentuk yang sangat berkarakter akan berakhir hanya dengan teknologi otomotif ramah lingkungan dan ramah “kantong” yang tidak memperdulikan bentuk dan kecepatan, dan akan berakhir ke transportasi individu yang sudah di visualisasi oleh film Wall-E.

Intinya, saya baru mendengar yaaah di awal tahun 2018 ini kalau Elon Musk memberi statement seperti ini pada salah satu program tv tonight show akan paten dari teknologi yang dia buat,

yUshTuT

7noFNq7

2WYZJm6

pDX1Q2L

aq4LfSF

Entah orang itu punya maksud apa di belakang dengan melepas paten teknologinya untuk bebas digunakan banyak orang. Yang jelas, analogi kapal besar yang bocor dan semua yang didalamnya akan tenggelam cukup sesuai. Statement itu mengulang apa yang dilakukan apple inc akan pendekatan proses desainnya dengan user experience, Elon Musk bukan techno geek, beliau realis dan HUMANIS.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s